image
  • By Septina Muslimah
  • 03 Jul 2026

Mengapa Strategic Foresight Butuh Keberanian Ambil Keputusan dan Ketangguhan Eksekusi?

Mari kita coba bayangkan situasi yang mungkin baru saja kita alami minggu ini atau bulan lalu. Kita duduk di ruang rapat manajemen. Di layar proyektor, terpampang hasil diskusi panjang tentang tren industri ke depan. Kita melihat dengan jelas perubahan perilaku pasar, munculnya pesaing baru, dan pergeseran teknologi yang tidak bisa lagi kita hindari.

Sebagai pemimpin, kita bisa melihat masa depan itu dengan cukup jelas. Kita tahu persis ke mana arah angin. Kita sepakat dan mengangguk bersama bahwa organisasi harus segera memutar kemudi jika tidak ingin tertinggal dan kehilangan pangsa pasar.

Namun, saat tiba waktunya bagi kita untuk benar-benar mengetuk palu dan memutuskan, mendadak suasana rapat menjadi hening. Ada keraguan, ada permintaan untuk mencari data tambahan, ada kekhawatiran tentang bagaimana reaksi tim di lapangan nanti jika arahan ini diturunkan.

Inilah realita yang sering kita hadapi dalam dunia bisnis saat ini. Semakin jelas kita melihat masa depan, sering kali semakin besar keraguan kita untuk melangkah ke sana.

Melihat peluang di masa depan tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak dapat mengambil keputusan yang tegas dan memastikan tim kita bergerak atas keputusan tersebut. 

Inilah mengapa disiplin ilmu membaca masa depan harus selalu kita iringi dengan kepemimpinan yang berani mengambil sikap dan membantu kejelasan dalam eksekusi operasional.

Melihat Sinyal Perubahan Saja Tidak Pernah Cukup

Saat ini, banyak perusahaan di sekitar kita berlomba-lomba melatih para pemimpinnya untuk memiliki pandangan jauh ke depan. Hal ini disebut sebagai strategic foresight.

Secara sederhana, strategic foresight adalah sebuah kemampuan dan pendekatan terstruktur bagi kita di dalam organisasi untuk mengamati tren atau sinyal perubahan yang sedang terjadi, membayangkan berbagai kemungkinan masa depan, dan menggunakan wawasan tersebut untuk mengambil keputusan strategis hari ini.

Pendekatan ini membuka wawasan kita dan melepaskan kacamata yang selama ini membatasi pandangan kita. Namun, dari hasil observasi dan ruang fasilitasi yang sering Gtrust Consultancy lakukan bersama berbagai klien, kami menemukan satu blind spot yang sering kali menjatuhkan perusahaan di tengah jalan.

Titik buta itu adalah asumsi bahwa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan sama dengan siap menghadapinya.

Nyatanya, pengetahuan dan kesadaran barulah langkah pertama. Tantangan terbesarnya justru muncul setelah kita menyadari tren tersebut. Mengetahui arah pasar berarti kita harus berani merubah cara kerja. Merubah cara kerja berarti kita harus berani mengambil keputusan yang memiliki risiko. Keputusan yang berisiko menuntut tim di lapangan untuk rela meninggalkan kebiasaan lama yang selama ini membuat mereka merasa aman dan nyaman.

Menurut riset Kaplan dan Norton, 90% strategi bisnis gagal dieksekusi di lapangan. Angka ini seolah menjadi teguran keras bagi kita para pemimpin. 

Masalah utama organisasi kita yaitu  kelemahan kita dalam menjalankan strategi itu sendiri di lapangan saat berhadapan dengan manusia dan kebiasaan mereka.

Mengapa strategic foresight bisa dengan mudah layu dan berhenti menjadi wacana? Mari kita coba telaah lebih dalam akar masalahnya.

Baca juga: Strategic Foresight: Dari Mode Reaktif Menuju Kepemimpinan Antisipatif dengan TAIDA Framework

Menghilangkan Asumsi dalam Menjalankan Strategi

Jika kita sungguh-sungguh ingin memperbaiki masalah strategy execution, kita harus berani melihat ke cermin dan mengevaluasi asumsi-asumsi yang selama ini sering kita yakini sebagai kebenaran mutlak dalam ruang rapat manajemen.

Selama ini, kita sering terjebak pada dua asumsi:

Asumsi 1: "Makin banyak data yang kita kumpulkan, keputusan kita akan makin aman."

Realita yang kita hadapi: Terlalu banyak informasi sering membuat kita terus menunda keputusan, demi mencari "kepastian" yang sebenarnya tidak pernah ada.

Sebagai pemimpin, ketika kita melihat tren masa depan, insting pertama kita biasanya adalah meminta tim untuk melakukan riset tambahan. Kita meminta hitungan ulang, laporan yang lebih rinci, dan memvalidasi angka berkali-kali. Niat kita tentu baik, ingin menghindari kesalahan fatal yang merugikan perusahaan.

Namun di dunia nyata bisnis yang bergerak cepat, kepastian utuh adalah sebuah ilusi. Menunggu informasi yang 100% sempurna hanya akan membuat organisasi kita kehilangan momentum. 

Terlalu banyak informasi justru membuat kita terjebak dalam kelumpuhan analisis (analysis paralysis). Pada akhirnya, pesaing sudah mengambil langkah lebih dulu, kondisi pasar sudah berubah lagi, dan keputusan kita menjadi kedaluwarsa sebelum sempat diterapkan.

Asumsi 2: "Kalau para manajer dan tim sudah mengangguk setuju saat rapat, berarti eksekusi di lapangan pasti aman."

Realita yang kita hadapi: Setuju itu letaknya di pikiran, sementara eksekusi itu letaknya di perilaku operasional. Setuju saat rapat bukan berarti tim kita siap dan berani bertindak.

Ini adalah jebakan eksekusi yang paling sering kita alami sebagai eksekutif. Kita mempresentasikan strategi baru yang terdengar sangat meyakinkan dan logis. Semua orang di ruangan mengangguk. Kita keluar dari ruangan dengan perasaan lega, mengira semuanya sudah beres dan besok pagi semua orang akan bekerja dengan cara yang baru.

Faktanya, anggukan kepala dari tim sering kali hanyalah bentuk rasa hormat atau sekadar kepatuhan sementara kepada atasan.

Setuju bukan berarti mereka tahu persis bagaimana cara mengeksekusinya di rutinitas harian mereka yang sudah padat. Harvard Business Review (HBR) mencatat bahwa 67% inisiatif strategis gagal karena manajemen terlalu sibuk dengan urusan rencana internal dan gagal menyelaraskan keputusan dengan kesiapan mental serta kemampuan orang-orang di lapangan.

Membedah Kegagalan Eksekusi dari Kacamata Perilaku dan Pola Pikir

Untuk membenahi rentetan kegagalan eksekusi ini, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan perbaikan prosedur kerja, sistem pelaporan, atau pembaruan target kinerja (KPI). 

Kita harus mulai membedahnya dari kacamata perilaku manusia dan cara kerja otak kita. Mengapa proses mengambil keputusan dan merubah cara kerja itu terasa sangat berat bagi kita dan tim kita?

1. Dari Sisi Pemimpin

Sebagai eksekutif, VP, atau Senior Manager, tanggung jawab operasional dan finansial yang kita pikul sangatlah besar. Jika keputusan strategis kita salah, dampaknya bisa memengaruhi kelangsungan perusahaan dan nasib banyak karyawan.

Secara alamiah, otak manusia memang dirancang untuk lebih takut pada kegagalan dan kerugian, dibandingkan termotivasi oleh keberhasilan atau kemenangan. Saat kita dihadapkan pada skenario masa depan yang tidak pasti, sistem peringatan di dalam diri kita akan menyala. Kita merasa cemas.

Bagaimana cara kita menenangkan kecemasan itu di ruang rapat? Dengan menuntut tambahan data. Kita merasa jika kita punya satu lembar laporan tambahan lagi, kita akan merasa lebih aman dan memiliki alasan yang kuat jika nanti terjadi kesalahan.

Siklus mencari aman inilah yang membuat proses decision making menjadi sangat lambat. Padahal, kualitas kepemimpinan kita justru sedang diuji pada saat kita harus berani melangkah di tengah ketidakpastian tersebut.

Baca juga: Meeting Kantor Tidak Efektif? Coba Cara Jeff Bezos Ini untuk Leader & HR

2. Dari Sisi Tim di Lapangan

Sekarang mari kita coba posisikan diri kita sebagai anggota tim. Bertahun-tahun mereka terbiasa bekerja dengan rutinitas yang mereka pahami luar dalam. Cara kerja itu sudah menjadi kebiasaan otomatis yang tidak membutuhkan banyak energi untuk dipikirkan. Tiba-tiba, manajemen pusat menurunkan instruksi strategi baru.

Bagi tim kita, strategi baru ini hampir selalu diterjemahkan sebagai hilangnya kenyamanan. Mereka harus belajar langkah baru, mereka takut membuat kesalahan yang akan menurunkan penilaian kinerja akhir tahun mereka, dan peran baru mereka dalam strategi tersebut tidak dijelaskan dengan gamblang.

Ketika instruksi dari atas turun tanpa kejelasan arah yang spesifik, tim kita akan merasa tidak aman. Insting natural manusia saat merasa tidak aman adalah melindungi diri dan masuk ke dalam mode bertahan hidup (survival mode).

Bentuk perlawanannya di kantor tidak selalu terang-terangan menolak. Sering kali perlawanan itu muncul berupa penundaan pekerjaan, alasan sibuk dengan urusan operasional harian, menunda membalas email, dan secara diam-diam kembali ke cara kerja lama yang terasa aman.

Riset terkemuka dari McKinsey mengkonfirmasi pola yang berulang ini. Sebanyak 70% inisiatif transformasi gagal total karena manajemen gagal membangun kemampuan beradaptasi dan kesiapan mental orang-orangnya, sebelum menuntut hasil akhir dari eksekusi tersebut. Kita terlalu sering fokus pada garis akhir, tanpa mengajari tim kita cara berlarinya.

TAIDA Framework: Jembatan Antara Sinyal Masa Depan dan Tindakan Tim

Dari pola kegagalan yang terus berulang ini, kita menyadari bahwa melihat masa depan saja tidak akan pernah cukup. Kita butuh kerangka kerja yang jelas untuk memandu kita bertindak.

Jika pada sesi Strategic Foresight Series 1 yang lalu kita telah mempelajari bersama cara membaca sinyal masa depan melalui tiga fase awal dalam TAIDA framework, yaitu:

  • Tracking: Melacak sinyal, tren, dan perubahan diam-diam di lingkungan bisnis kita.
  • Analyzing: Menganalisis apa saja dampak perubahan tersebut pada kelangsungan model bisnis organisasi kita.
  • Imaging: Membayangkan gambaran berbagai skenario masa depan yang mungkin terjadi dan peluang di dalamnya.

Maka, tantangan sesungguhnya bagi kita para pemimpin justru terletak pada dua fase terakhir kerangka kerja ini, yaitu Deciding (Memutuskan) dan Acting (Bertindak).

Dua fase inilah yang menjadi jembatan kritis antara visi dan realita di lapangan. Mari kita coba bedah prinsip praktis dari kedua fase penentu ini agar strategi yang kita rumuskan benar-benar bisa menggerakkan roda organisasi.

Fase Deciding: Keberanian Kita Mengambil Keputusan di Tengah Ambiguitas

Fase pengambilan keputusan menuntut keberanian kita sebagai pemimpin untuk memitigasi risiko dan menetapkan pilihan prioritas, meskipun situasinya belum sepenuhnya jelas.

Keputusan yang terus-menerus kita tunda akan menciptakan kebingungan di level operasional. Jika kita di level atas tidak berani menetapkan prioritas yang jelas, tim kita di bawah akan kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sekaligus tanpa fokus yang tajam.

Mari kita coba terapkan beberapa prinsip kepemimpinan berikut di ruang rapat kita selanjutnya:

1. Kita Coba Gunakan Aturan Batas 70%

Mari kita tinggalkan kebiasaan menunda demi menunggu data sempurna. Jika kita sudah mengantongi informasi, tren pasar, dan keyakinan sebesar 70%, mari beranikan diri untuk mengambil keputusan saat itu juga. 

Sisa 30%-nya merupakan ruang bagi organisasi kita untuk lincah beradaptasi, belajar dari umpan balik lapangan, dan melakukan penyesuaian arah sambil berjalan. Mengamankan momentum jauh lebih krusial bagi kelangsungan bisnis daripada sebuah rencana kerja yang sempurna tetapi terlambat dieksekusi.

2. Tanyakan Secara Terbuka: "Apa yang Harus Kita Korbankan?"

Setiap pilihan strategi masa depan menuntut adanya pengorbanan. Memutuskan arah baru berarti kita juga harus berani dan tegas memilih apa yang tidak akan kita kerjakan lagi. 

Kita coba tanyakan dalam diskusi tim manajemen: “Jika kita memilih arah baru ini, proyek atau produk lama mana yang harus segera kita hentikan hari ini juga agar sumber daya dan fokus tim kita tidak terkuras habis?”

Baca juga: 3 Framework Ampuh untuk Mengatasi Konflik di Tempat Kerja

3. Komunikasikan kepada Tim

Saat kita sudah mengambil keputusan strategis, mari kita komunikasikan alasan di baliknya dengan jujur dan terbuka kepada tim. Jangan sekadar mengirim dokumen instruksi tugas melalui email. 

Kumpulkan mereka dan ceritakan kepada mereka mengapa keputusan yang mungkin berat dan melelahkan ini harus kita ambil bersama. Tim yang memahami gambaran besar dan konteks dari keputusan kita akan tumbuh menjadi tim yang jauh lebih tangguh menghadapi hambatan saat bertugas di lapangan.

Fase Acting: Memastikan Tim Kita Benar-Benar Bergerak sesuai Keputusan

Sebuah strategi hanya bisa terwujud jika ada manusia yang siap, bersedia, dan paham akan perannya. Tahap Acting adalah upaya secara sadar dan terus-menerus dari kita untuk membangun kesiapan psikologis, serta membekali kompetensi tim kita agar mereka benar-benar mampu berubah.

Bagaimana cara kita meminimalkan kebingungan dan memastikan inisiatif kita tidak layu sebelum berkembang di level operasional? Kita coba langkah berikut:

1. Terjemahkan Strategi Menjadi Perilaku Harian yang Sangat Spesifik

Instruksi strategis berbunyi "Kita harus bertransformasi menjadi organisasi yang lebih inovatif" sering terlalu mengawang-awang bagi staf kita. Tugas kita dan para manajer di tengah adalah menjabarkannya menjadi perilaku spesifik harian.

Misalnya: "Mulai minggu depan, setiap rapat divisi di hari Senin wajib mengalokasikan 10 menit pertama untuk membahas satu keluhan pelanggan paling unik minggu lalu dan menemukan satu solusi perbaikannya." 

Jika strategi kita tidak tercermin di dalam jadwal kegiatan harian tim, eksekusi itu tidak akan pernah terjadi.

2. Berikan Ruang Aman bagi Tim untuk Belajar, Berlatih, dan Berbuat Salah

Kita harus menyadari dengan lapang dada bahwa saat tim kita mencoba cara kerja yang baru, prosesnya pasti akan terasa sangat canggung. Mereka mungkin akan lambat di awal, sering bertanya, dan sesekali melakukan kesalahan teknis. Hal ini sangat manusiawi.

Jika kita langsung memberikan teguran keras atas kesalahan di tahap awal transisi ini, tim kita akan merasa terancam dan segera berlindung di balik cara kerja lama. Mari kita coba berikan ruang aman secara psikologis bagi mereka untuk berlatih dan beradaptasi.

3. Bangun Agen Perubahan (Agent of Change) di Organisasi

Sebagai pimpinan tingkat atas, kita tentu tidak mungkin bisa mengawasi jalannya eksekusi di setiap meja kerja dan setiap cabang. Hambatan terbesar dalam strategy execution adalah absennya pihak yang mampu menerjemahkan bahasa keputusan manajemen ke dalam bahasa keseharian sesama staf.

Kita bisa mulai mengidentifikasi karyawan-karyawan yang selama ini disegani dan dipercaya oleh rekan kerjanya di divisinya masing-masing. Bekali mereka dengan pemahaman utuh akan arah strategi kita, dan berdayakan mereka sebagai agent of change. Merekalah perpanjangan tangan nyata kita di lapangan.

Baca juga: Model Kirkpatrick, Cara Efektif Proses Evaluasi Pelatihan SDM

Mari Kita Coba Refleksikan Sejenak Gaya Kepemimpinan Kita

Sebagai profesional dan pengambil keputusan, mari kita jujur melihat ke dalam dinamika organisasi kita.

Kita coba tanyakan tiga hal reflektif ini pada diri kita sendiri dan rekan di tim manajemen:

  1. Saat tim kita terlihat lambat dan terkesan menolak perubahan, apakah mereka benar-benar sengaja membangkang atau sebenarnya mereka hanya belum merasa aman dan tidak paham tindakan konkret apa yang sesungguhnya harus mereka ambil?
  2. Saat sebuah strategi terbukti gagal berjalan, apa yang paling sering kita perbaiki di perusahaan? Apakah kita terus-menerus menyalahkan kompetensi orangnya atau kurangnya pelatihan, padahal bisa jadi sistem pembagian peran dan kejelasan arahan kitalah yang sejak awal menjadi akar masalahnya?
  3. Dari semua rentetan panjang ruang rapat yang kita jalani satu minggu ini, berapa banyak waktu yang benar-benar menghasilkan kejelasan tindakan untuk tim kita di lapangan kerjakan esok pagi dan berapa banyak yang sekadar berdebat soal data masa lalu?

Walaupun terkadang pertanyaan-pertanyaan ini terasa sangat tidak nyaman untuk kita jawab, di titik-titik krusial inilah kepemimpinan kita sesungguhnya sedang diuji. 

Memiliki kemampuan membaca tren masa depan dari kacamata bisnis memang penting, tetapi kemampuan kita untuk berani mengambil keputusan dan merangkul manusia di dalam tim kita untuk mengeksekusinya adalah hal yang akan menentukan nasib dan usia organisasi kita.

Mengundang Anda untuk Menutup Kesenjangan Antara Strategi dan Eksekusi

Mari kita lihat kembali dengan jujur perjalanan organisasi kita setahun belakangan ini. Dari sekian banyak inisiatif, wacana perubahan, rapat kerja, dan keputusan baru yang pernah kita sepakati bersama, berapa persentase yang benar-benar dijalankan dan berapa yang akhirnya berhenti, mangkrak, lalu dilupakan?

Apakah tantangan terbesar di perusahaan kita saat ini berakar pada cara kita menimbang dan memutuskan arah? Ataukah tantangannya justru ada pada cara kita menggerakkan, memotivasi, dan menyiapkan orang-orang di operasional?

Jika kita sepakat bahwa kita ingin membangun organisasi yang jago meramal tren masa depan sekaligus cepat dan lincah mengeksekusinya tanpa ragu, maka kita perlu mengatasi celah masalah ini bersama-sama.

Untuk membantu Anda dan tim pemimpin di organisasi Anda menjembatani visi masa depan dengan realita dan dinamika manusia di lapangan, Gtrust Consultancy secara eksklusif menghadirkan sebuah sesi executive workshop.

Beyond Strategic Foresight: Deciding & Taking Action for the Future of Your Organization

🗓️ Tanggal: Kamis, 16 Juli 2026

🕙 Waktu: 10:00 – 12:00 WIB

💻 Platform: Online via Zoom

🎟️ Investasi: GRATIS

Apa yang akan Anda pelajari dalam sesi eksklusif ini?

  • Kerangka kerja konkret untuk menimbang opsi strategis dan memutuskan arah di tengah ketidakpastian.
  • Metode mengambil keputusan yang didorong oleh foresight, bukan hanya mengandalkan data historis atau tekanan jangka pendek.
  • Mengubah kemampuan bertindak (acting) menjadi kapabilitas organisasi, eksekusi teknis, serta membangun SDM yang adaptif.
  • Strategi mengidentifikasi dan membentuk agen perubahan (change champions) di berbagai lini organisasi untuk menjalankan strategi.

Sesi ini akan difasilitasi langsung oleh para ahli di bidangnya:

  • Novistiar Rustandi -  Agripreneur & Business Transformation Consultant 
  • Widya Dwi Hidayati – Marketing Manager at Gtrust Consultancy 

Eksklusif Benefit untuk Peserta

  • Framework TAIDA praktis untuk diaplikasikan langsung di tim dan organisasi
  • Tools fasilitasi untuk mempermudah diskusi dan perencanaan strategis bersama tim
  • E-book eksklusif berisi rangkuman sesi dan template latihan framework

Mari pastikan kehadiran Anda hari ini dengan mendaftar melalui tautan berikut: https://rqrcode.com/strategicforesight2 

Kita wujudkan visi masa depan organisasi kita melalui pergerakan setiap individu di lapangan setiap harinya.

Terlewat Sesi Eksklusif Ini? Mari Diskusikan Kebutuhan Organisasi Anda

Perjalanan untuk membangun kapabilitas dan ketangguhan eksekusi di organisasi Anda tidak pernah mengenal kata terlambat.

Jika Anda merasa organisasi Anda saat ini sangat membutuhkan penyelarasan dalam hal pengambilan keputusan dan eksekusi strategi yang berbasis pandangan ke depan (strategic foresight), Gtrust Consultancy siap hadir sebagai mitra diskusi Anda.

Kami dapat membantu merancang sesi fasilitasi, workshop in-house, atau program pendampingan kepemimpinan yang disesuaikan secara khusus dengan dinamika dan ukuran organisasi Anda.

Mari kita jadwalkan percakapan mengenai tantangan eksekusi yang saat ini sedang tim Anda hadapi. 

Hubungi kami melalui:

WhatsApp: +62 811 2026 1835

Email: consultancy@gtrust.id 

Sumber

Harvard Business School Online. (2020). Why Do Strategic Plans Fail? Retrieved from https://online.hbs.edu/blog/post/why-do-strategic-plans-fail 

Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (2005). The Office of Strategy Management. Harvard Business Review.

McKinsey & Company. (2019). Why do most transformations fail? A conversation with Harry Robinson. Retrieved from https://www.mckinsey.com/capabilities/transformation/our-insights/why-do-most-transformations-fail-a-conversation-with-harry-robinson 

Ron Carucci. (2017). Executives Fail to Execute Strategy Because They’re Too Internally Focused. Harvard Business Review. Retrieved from https://hbr.org/2017/11/executives-fail-to-execute-strategy-because-theyre-too-internally-focused

Share: