image
  • By Septina Muslimah
  • 11 Aug 2025

4 Cara Menjadi Pemimpin yang Menjalankan Efisiensi dengan Tetap Berempati

Di tengah pemangkasan tim, percepatan target, dan tekanan angka, kepemimpinan dengan empati bukanlah kelembutan yang melemahkan. Empati adalah ketangguhan, kemampuan untuk tetap berpegang pada nilai kemanusiaan sambil memastikan tujuan tetap tercapai.

Survei EY Consulting 2021 menguatkan hal ini. Saat pemimpin bekerja dengan empati: 87% karyawan terinspirasi menciptakan perubahan positif, 87% merasakan saling menghormati, 85% menjadi lebih produktif, 78% lebih jarang berpindah kerja.

Empati bukan sekadar tambahan, tapi kunci membangun tim yang kreatif, solid, dan setia.
 

Saat Efisiensi Menjadi Kenyataan

Masih ingat rasanya ketika tim harus menghadapi gelombang efisiensi? Target ditambah, anggaran dipotong, dan beberapa rekan harus berpamitan.

Sebagai leader, yang dirasakan bukan hanya tekanan pekerjaan. Ada cemas, lelah, bahkan takut kehilangan arah. Semakin banyak pemimpin menyadari, di masa seperti itu tim tidak hanya butuh strategi atau arahan. Mereka butuh pemimpin yang hadir secara utuh, dengan empati.

Karena empati bukan kelembutan yang mengurangi ketegasan. Empati adalah kekuatan yang membuat kita tetap teguh, berjalan bersama, dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
 

4 Cara Menjadi Pemimpin yang Menjalankan Efisiensi dengan Tetap Berempati

Menjadi pemimpin di tengah situasi penuh tekanan adalah ujian yang kompleks. Kita diminta untuk menjaga laju organisasi, tetapi di saat yang sama tetap memelihara semangat dan kesehatan tim.

Empati di sini bukan sekadar “mendengarkan keluhan,” tapi memahami apa yang memengaruhi cara mereka bekerja, merasa, dan berkembang. Berikut empat langkah yang bisa membantu Anda menyeimbangkan efisiensi dan empati dalam kepemimpinan.
 

1. Waspadai Tanda-Tanda Burnout Sebelum Terlambat

Realita:
Di masa efisiensi, target sering kali tetap sama—bahkan bertambah—sementara jumlah orang yang mengerjakannya berkurang.

Tantangan:
Fokus mengejar hasil membuat pemimpin kadang luput melihat tanda-tanda kelelahan di tim.

Yang bisa dilakukan:
Sisihkan waktu untuk check-in, bukan hanya soal progres kerja, tapi juga keseharian mereka. Kadang, pertanyaan sederhana seperti, “Gimana kamu ngatur ulang bebanmu sekarang?” lebih berarti daripada sekadar, “Sudah sampai mana pekerjaanmu?”
 

2. Tunjukkan Ketulusan pada Harapan & Kebutuhan Personal

Realita:
Efisiensi sering membuat rencana pribadi tertunda: pelatihan dibatalkan, promosi ditunda, dan tujuan karier terasa makin jauh.

Tantangan:
Pemimpin mudah terjebak fokus pada target organisasi, hingga lupa bahwa tim tetap punya mimpi.

Yang bisa dilakukan:
Lihat mereka sebagai individu, bukan sekadar peran. Tanpa memberi harapan palsu, berikan ruang untuk berbicara:

“Aku tahu situasinya belum ideal, tapi apa yang bisa kita upayakan agar kamu tetap merasa bertumbuh?”
 

3. Hadir Saat Masalah Pribadi Tak Bisa Lagi Dipisahkan

Realita:
Tekanan kerja merembet ke rumah: rasa bersalah karena selamat dari layoff, cemas soal keuangan, hingga insomnia.

Tantangan:
Banyak pemimpin menganggap ini “urusan pribadi” yang tidak perlu disentuh. Padahal, jika seseorang tidak baik-baik saja di rumah, mereka juga sulit maksimal di kantor.

Yang bisa dilakukan:
Berikan ruang aman untuk bercerita. Kadang, mendengarkan dengan tulus jauh lebih berarti daripada memberi solusi instan.
 

4. Tunjukkan Kepedulian Saat Tim Mengalami Kehilangan

Realita:
Efisiensi tidak hanya mengurangi jumlah orang, tapi juga membuat tim kehilangan teman kerja, mentor, bahkan rasa percaya pada sistem.

Tantangan:
Dorongan untuk cepat “move on” membuat luka emosional terabaikan.

Yang bisa dilakukan:
Ajak tim memproses perasaan itu: “Apa yang kamu rasakan tentang perubahan ini?” 
Mengakui rasa kehilangan membuat mereka merasa dilihat dan tidak sendirian.
 

Efisiensi dengan Empati: Bukan Pilihan, tapi Keharusan

Efisiensi kadang tak terhindarkan. Namun, jika dijalankan tanpa empati, yang hilang bukan hanya angka, tapi juga semangat, kepercayaan, dan rasa kemanusiaan.

Lantas, bagaimana caranya menjadi pemimpin yang bisa menjalankan efisiensi tanpa kehilangan empati? Temukan jawabannya di Online Workshop Gtrust Consultancy.
 

Efficiency with Empathy: Sustaining Performance, Protecting People
🗓️ Rabu, 13 Agustus 2025
🕖 19.00–21.00 WIB
💻 Online via Zoom
GRATIS! | Daftar di sini: http://bit.ly/EfficiencyWithEmpathy

Sesi ini akan difasilitasi oleh dua sosok inspiratif:

🔹 Star Ercahaya Hasugian – Director Gtrust Consultancy, berpengalaman lebih dari 21 tahun memimpin transformasi organisasi
🔹 Safinah Siregar – HR Professional & Enthusiast, berpengalaman lebih dari 20 tahun di perusahaan energi terkemuka

Jangan biarkan efisiensi menjadi alasan bagi tim kita untuk kehilangan harapan.
Mari bergerak bersama. Mulai dari online workshop ini. 

Share: