image
  • By Septina Muslimah
  • 05 Feb 2026

3 Framework Ampuh untuk Mengatasi Konflik di Tempat Kerja

Dalam organisasi mana pun, konflik adalah keniscayaan. Setiap tempat kerja mempertemukan individu dengan latar belakang, pengalaman, kepribadian, nilai, dan tekanan hidup yang berbeda. Di ruang yang sama, orang-orang diminta bekerja cepat, berkolaborasi lintas fungsi, dan mengambil keputusan penting. Di titik inilah konflik hampir pasti muncul.

Namun tantangannya bukan pada ada atau tidaknya konflik. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana cara menghadapi konflik di tempat kerja secara dewasa, sehat, dan produktif.

Banyak organisasi masih melihat konflik sebagai gangguan yang harus dihindari. Padahal, konflik yang tidak dikelola justru menjadi sumber pemborosan energi, turunnya kepercayaan, dan melambatnya kinerja tim.

Beberapa penyebab umum konflik di tempat kerja antara lain:

  • miskomunikasi atau keterampilan komunikasi yang lemah
  • perbedaan sudut pandang, gaya berpikir, atau kepribadian
  • bias dan stereotip yang tidak disadari
  • perbedaan cara belajar atau memproses informasi
  • persepsi ketidakadilan dalam peran, beban kerja, atau keputusan

Konflik itu normal. Namun, banyak individu termasuk leader tidak nyaman menghadapinya, terutama jika konflik terjadi dengan rekan kerja sendiri atau anggota tim yang sudah lama bekerja bersama. Di sinilah manajemen konflik di tempat kerja menjadi kompetensi kunci bagi pemimpin dan HR.

Kenapa Konflik di Tempat Kerja Perlu Ditangani Secara Sadar?

Mengabaikan konflik tidak akan membuatnya hilang. Sebaliknya, konflik yang tidak tersentuh sering berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan lebih mahal.

Konflik yang dibiarkan biasanya berdampak pada:

  • deadline yang terlewat
  • emosi negatif yang dipendam dan berubah menjadi sinisme
  • kolaborasi yang melemah
  • keputusan yang setengah matang dan defensif

Riset dari Bravely menunjukkan bahwa 53% karyawan memilih menghindari situasi kerja yang dianggap “toxic”, bukan menyelesaikannya. Lebih jauh lagi, satu konflik yang dihindari dapat menghabiskan biaya organisasi sekitar USD 7.500 (± Rp112 juta) dan menyita lebih dari 7 hari kerja.

Dalam skala makro, konflik yang tidak terselesaikan membuat bisnis di Amerika kehilangan sekitar USD 359 miliar per tahun atau setara Rp5.300 triliun.

Bagi leader dan HR, ini pesan penting: konflik bukan hanya isu relasi, tetapi isu performa dan keberlanjutan organisasi.

Tugas pemimpin bukan menghilangkan konflik, melainkan memastikan konflik dikelola dengan cara yang membangun. Cara menghadapi konflik di tempat kerja yang tepat akan melindungi kesehatan psikologis tim sekaligus menjaga kinerja dan hasil bisnis.

Berikut tiga framework praktis yang dapat menjadi fondasi manajemen konflik di tempat kerja.

Framework 1: Interest-Based Relational Approach (IBR) — Menjaga Relasi Sambil Menyelesaikan Masalah

Interest-Based Relational Approach (IBR) adalah pendekatan penyelesaian konflik yang menempatkan hubungan kerja dan kepentingan bersama sebagai prioritas utama. Fokusnya bukan pada siapa yang benar atau siapa yang menang, melainkan pada mengapa masing-masing pihak memperjuangkan posisinya.

Pendekatan ini sangat relevan bagi leader dan HR karena konflik di organisasi jarang murni soal tugas. Lebih sering, konflik berakar pada:

  • ekspektasi yang tidak tersampaikan
  • kebutuhan yang tidak diakui
  • rasa tidak dihargai
  • atau tujuan yang tidak diselaraskan

Prinsip Utama IBR

  • Shared interests – menyelaraskan tujuan dan kepentingan bersama
  • Mutual respect – menghargai perbedaan sudut pandang dan kontribusi
  • Collaborative problem-solving – mencari solusi secara bersama, bukan sepihak

Cara Menerapkan IBR secara Praktis

  • Mulai dari percakapan one-on-one untuk menggali kepentingan masing-masing pihak
  • Gunakan active listening
  • Ajukan pertanyaan terbuka untuk memahami alasan di balik sikap seseorang
  • Pisahkan fakta dari asumsi dan emosi
  • Definisikan masalah secara bersama sebelum mencari solusi

Contoh Konflik di Tempat Kerja dan Cara Mengatasinya dengan IBR

Dua rekan tim berdebat soal prioritas tugas. Masing-masing merasa pekerjaannya lebih penting. Dengan pendekatan IBR, mereka tidak lagi berdebat soal “mana yang duluan”, tetapi bertanya, “kenapa tugas ini krusial?”.

Hasilnya, satu tugas berkaitan dengan komitmen klien, sementara tugas lain berdampak pada alur kerja tim lain. Solusi yang disepakati: membagi resource dan menyusun ulang jadwal agar kedua kepentingan tetap terpenuhi.

Refleksi untuk Leader dan HR

  • Apakah saya lebih sering memutuskan konflik, atau membantu tim memahami kepentingan satu sama lain?
  • Dalam konflik terakhir, apakah saya benar-benar mendengar, atau hanya menunggu kesempatan untuk merespons?
  • Apakah sistem kerja memberi ruang dialog, atau justru mendorong orang saling defensif?

Quick win: Saat konflik muncul, tanyakan: “Kenapa hal ini penting buat kamu?”. Pertanyaan ini sering menggeser konflik dari posisi ke kepentingan.

Baca juga: Manajemen Konflik: Pengertian, Teori, Strategi, dan Contohnya dalam Organisasi

Framework 2: Thomas-Kilmann Model — Memilih Respons yang Tepat Sesuai Situasi

Tidak semua konflik perlu diselesaikan dengan cara yang sama. Thomas-Kilmann Conflict Model membantu leader dan HR memahami kapan harus tegas, kapan harus kolaboratif, dan kapan sebaiknya menahan diri.

Model ini menggunakan dua dimensi utama:

  • Assertiveness: seberapa kuat kita memperjuangkan kepentingan sendiri
  • Cooperation: seberapa besar kita mau bekerja sama dengan pihak lain

Dari kombinasi keduanya, lahirlah lima gaya manajemen konflik di tempat kerja.

1. Avoiding (Menghindar)

Digunakan ketika isu relatif kecil, emosi sedang tinggi, atau konflik tidak berdampak signifikan saat ini. Risikonya jika menjadi kebiasaan, masalah akan menumpuk dan kepercayaan menurun.

2. Accommodating (Mengalah)

Mengalah demi menjaga hubungan atau ketika posisi kita memang tidak kuat. Risikonya jika terlalu sering, dapat menggerus kredibilitas dan rasa keadilan.

3. Competing (Bersaing)

Tepat saat keputusan harus cepat, menyangkut etika, atau dalam kondisi darurat. Risikonya, menurunkan kolaborasi dan memperkuat budaya takut salah.

4. Collaborating (Berkolaborasi)

Mencari solusi terbaik bersama. Cocok untuk konflik kompleks dan berdampak jangka panjang. Risiko nya memerlukan waktu dan energi lebih besar.

5. Compromising (Kompromi)

Titik tengah. Tidak ideal, tetapi sering efektif untuk meredakan konflik dengan cepat.

Contoh Konflik di Tempat Kerja dan Mengatasinya dengan Cara Thomas-Kilmann

Marketing ingin produk segera diluncurkan, sementara developer ingin menambah fitur. Dengan pendekatan kolaboratif, diputuskan rilis bertahap: produk tetap launch tepat waktu, fitur tambahan menyusul.

Refleksi untuk Leader & HR

  • Gaya konflik apa yang paling sering saya gunakan?
  • Apakah saya menyesuaikan gaya dengan situasi, atau selalu menggunakan satu pendekatan?
  • Konflik apa yang seharusnya dikolaborasikan, tetapi justru saya putuskan sepihak?

Quick win: Kenali gaya konflik Anda, lalu coba gunakan gaya berbeda minggu ini jika situasinya memungkinkan.

Baca juga: Model Kirkpatrick, Cara Efektif Proses Evaluasi Pelatihan SDM

Framework 3: Circle of Conflict — Menemukan Akar Masalah yang Sebenarnya

Banyak konflik terlihat personal, padahal akar masalahnya justru ada di sistem. Circle of Conflict membantu leader dan HR mengidentifikasi sumber konflik, bukan hanya gejalanya.

Framework ini membagi konflik ke dalam lima sumber utama:

  1. Relationship – emosi, miskomunikasi, kurangnya kepercayaan
  2. Data – informasi tidak lengkap atau interpretasi berbeda
  3. Interest – kepentingan yang saling bertabrakan
  4. Value – perbedaan nilai atau prinsip
  5. Structural – sistem, peran, wewenang, atau alur kerja

Contoh Konflik di Tempat Kerja dan Cara Mengatasinya dengan Circle of Conflict

Konflik antar supervisor dianggap masalah personal. Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata akar masalahnya adalah sistem serah-terima shift yang tidak jelas. Begitu proses diperbaiki, konflik pun mereda tanpa perlu “memperbaiki orangnya”.

Refleksi untuk Leader & HR

  • Apakah konflik ini benar-benar soal orang, atau soal sistem yang kita desain?
  • Masalah apa yang terus berulang meski orangnya sudah berganti?
  • Apakah struktur kerja justru menciptakan kompetisi yang tidak sehat?

Quick win: Saat konflik terasa berlarut-larut, tanyakan: “Ini soal orangnya, atau sistem kerjanya?”

Langkah Praktis yang Bisa Dicoba Sekarang

Sebagai leader atau HR, mengelola konflik bukan soal memiliki jawaban tercepat, melainkan kemampuan membaca situasi dengan jernih dan memilih pendekatan yang tepat. Tiga framework di atas tidak dimaksudkan untuk dihafal, tetapi digunakan sebagai alat bantu berpikir dalam menghadapi konflik sehari-hari di organisasi.

Untuk mulai membangun manajemen konflik di tempat kerja yang lebih sehat, Anda dapat mencoba langkah-langkah berikut:

1. Kenali gaya konflik pribadi dan tim

Gunakan Thomas-Kilmann Model untuk merefleksikan kecenderungan Anda saat menghadapi konflik. Apakah Anda cenderung menghindar, bersaing, mengalah, berkompromi, atau berkolaborasi? Kesadaran ini membantu leader memilih respons yang lebih disengaja, bukan reaktif.

2. Latih percakapan berbasis kepentingan (IBR)

Sebelum masuk ke solusi, siapkan beberapa pertanyaan reflektif untuk menggali kepentingan di balik posisi masing-masing pihak. Pendekatan ini membantu konflik bergeser dari tarik-menarik ego menjadi dialog yang lebih konstruktif.

3. Uji konflik dari perspektif sistem (Circle of Conflict)

Untuk konflik yang berulang atau terasa personal, gunakan Circle of Conflict untuk mengecek apakah akar masalahnya ada pada relasi, data, kepentingan, nilai, atau justru struktur kerja. Banyak konflik mereda bukan karena orang berubah, tetapi karena sistemnya diperbaiki.

Langkah-langkah ini sederhana, namun konsisten dipraktikkan, dapat mengubah cara organisasi memandang dan menangani konflik.

Pendampingan Manajemen Konflik untuk Organisasi

Jika organisasi Anda sedang menghadapi tantangan dalam menyelaraskan perbedaan, konflik lintas fungsi, atau ingin membangun kapasitas internal agar konflik dapat dikelola secara lebih sehat dan produktif, Gtrust Consultancy siap mendampingi.

Melalui program “Conflict Management for Better Workplace”, kami membantu organisasi:

  • memahami dinamika konflik secara lebih jernih
  • membekali leader dan HR dengan kerangka berpikir yang aplikatif
  • mengelola konflik sebagai sumber kejelasan, pembelajaran, dan kolaborasi

Pendekatan kami tidak terbatas pada satu metode. Kami menggunakan Interest-Based Relational Approach, Thomas-Kilmann Model, Circle of Conflict, serta framework lain yang disesuaikan dengan konteks, budaya, dan tantangan spesifik organisasi Anda.

Mari bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang lebih dewasa, sehat, dan produktif. Hubungi Gtrust Consultancy melalui consultancy@gtrust.id atau WhatsApp +62 811-1815-078, dan mari terus #TumbuhBersama

Share: