image
  • By Septina Muslimah
  • 11 Aug 2026

Penyebab Manajer Baru Gagal Memimpin & Pentingnya Pelatihan First-Time Manager

Mempromosikan karyawan terbaik menjadi manajer adalah keputusan wajar diambil banyak perusahaan. Karyawan tersebut biasanya sudah terbukti unggul secara teknis, disiplin, dan bisa diandalkan menyelesaikan pekerjaan. 

Namun tanpa persiapan yang memadai, perusahaan justru berisiko kehilangan investasi terbaiknya karena kehilangan eksekutor teknis yang jago di posisi lama sekaligus mendapatkan pemimpin yang belum siap di posisi baru.

Perubahan jabatan tidak serta merta mengubah cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara memengaruhi orang lain. 

Banyak karyawan yang sangat andal ketika bekerja sendiri, justru kesulitan begitu harus memimpin timnya, karena keterampilan menyelesaikan pekerjaan pribadi dan keterampilan menggerakkan orang lain adalah dua hal yang jauh berbeda.

Riset Menunjukkan Sebagian Besar Manajer Baru Belum Siap Memimpin

Saat masih menjadi individual contributor, keberhasilan seseorang diukur dari hasil kerjanya sendiri. Ia dianggap berhasil ketika mampu menyelesaikan tugas dengan cepat dan rapi. 

Setelah naik jadi manajer, tolak ukur keberhasilannya berubah total. Ia dinilai dari hasil kerja seluruh timnya, sesuatu yang jauh lebih sulit dikendalikan sendirian karena bergantung pada motivasi, kompetensi, dan cara berpikir orang lain.

Masalahnya, pergeseran besar ini jarang benar benar disiapkan oleh organisasi. Banyak perusahaan berasumsi bahwa kemampuan memimpin akan tumbuh dengan sendirinya seiring waktu, sambil menjalani perannya. Beberapa temuan riset berikut menggambarkan besarnya kesenjangan ini.

•       Riset CEB Global mencatat, 6 dari 10 manajer baru gagal menjalankan perannya dengan baik dalam 24 bulan pertama sejak diangkat.

•       Riset Gallup menemukan bahwa 8 dari 10 keputusan promosi menempatkan orang yang kurang tepat di posisi manajerial.

•       Riset Center for Creative Leadership (CCL) menemukan bahwa hampir 6 dari 10 manajer baru mengaku tidak pernah menerima pelatihan formal apa pun ketika pertama kali bertransisi ke peran kepemimpinan.

Ketiga data ini saling menguatkan satu sama lain. Kegagalan first-time manager menjadi pola yang berulang di banyak organisasi. Akar masalahnya hampir selalu sama, yaitu karyawan dipromosikan karena prestasi teknis, lalu dibiarkan belajar sendiri tanpa bekal memadai untuk memimpin orang lain.

Dampak Kegagalan Kepemimpinan Terhadap Tim dan Operasional

Manajer baru yang belum siap cenderung menghindari feedback, kesulitan mendelegasikan tugas, dan mengambil alih pekerjaan timnya sendiri. Pola ini biasanya muncul dari rasa tanggung jawab yang berlebihan atas hasil akhir. Dengan alasan yang terasa masuk akal, yaitu merasa lebih cepat dan lebih rapi jika dikerjakan sendiri. Padahal kebiasaan ini memicu beberapa masalah sekaligus yang saling memperburuk satu sama lain.

•       Manajer kehabisan waktu untuk berpikir strategis karena sibuk mengerjakan tugas teknis harian yang seharusnya bisa didelegasikan.

•       Anggota tim kehilangan rasa kepemilikan atas pekerjaannya, berhenti berinisiatif, dan terbiasa menunggu perintah karena merasa tidak dipercaya.

•       Keputusan penting menumpuk di satu meja sehingga menghambat kecepatan kerja seluruh tim, bukan hanya pekerjaan sang manajer.

Menurut riset Gartner, kebiasaan ini dapat menurunkan performa tim hingga 15 persen, dengan risiko karyawan resign 20 persen lebih tinggi. 

Temuan ini juga sejalan dengan riset besar Gallup terhadap lebih dari 2,7 juta karyawan di ratusan ribu tim, yang menemukan bahwa kualitas manajer menjelaskan sekitar 70 persen perbedaan tingkat keterlibatan kerja (engagement) antar tim di perusahaan yang sama. 

Artinya, perbedaan antara tim yang bersemangat dan tim yang lesu, sebagian besar ditentukan oleh siapa yang memimpin mereka, bukan oleh fasilitas kantor atau besaran gaji semata.

Dampak Kegagalan Kepemimpinan Terhadap Biaya dan Bisnis

Kualitas manajemen yang buruk memiliki dampak finansial yang nyata dan bisa dihitung. Riset Gallup memperkirakan kerugian akibat manajemen yang buruk mencapai Rp15.000 hingga Rp19.000 triliun per tahun di Amerika Serikat.

Angka tersebut berasal dari akumulasi persoalan kecil sehari hari, seperti proyek yang tertunda karena keputusan yang tertahan, karyawan berbakat yang resign karena merasa tidak dipercaya, waktu manajer yang habis untuk mengerjakan ulang tugas timnya, hingga biaya rekrutmen dan pelatihan ulang setiap kali ada karyawan yang keluar akibat kepemimpinan yang buruk. 

Membiarkan first-time manager belajar sendiri tanpa bekal yang jelas justru menimbulkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan investasi menyiapkan mereka sejak awal karena biaya kegagalan kepemimpinan terus bertambah setiap bulan ia dibiarkan tanpa pendampingan.

Tiga Bekal Utama yang Wajib Dimiliki Manajer Baru

Kesiapan seorang first-time manager tidak cukup diukur dari kompetensi teknisnya saja. Setidaknya ada tiga bekal utama yang perlu disiapkan sebelum seseorang memimpin tim, dan ketiganya saling melengkapi satu sama lain.

1. Kemampuan Berpikir dan Membimbing Tim

Perubahan paling mendasar bagi first-time manager terletak pada cara berpikir dan cara berhubungan dengan orang lain, bukan pada keterampilan teknisnya yang biasanya memang sudah kuat sejak awal.

  • Pergeseran cara pandang adalah langkah pertama. Selama menjadi individual contributor, seluruh energi terpusat pada satu pertanyaan, yaitu bagaimana caranya menyelesaikan tugas sendiri secepat dan serapi mungkin. 

Setelah menjadi manajer, pertanyaannya berubah menjadi bagaimana caranya membuat tim mampu bekerja secara mandiri tanpa harus terus menerus diarahkan. Tanpa pergeseran ini, seorang manajer baru akan terus bekerja seperti individual contributor, sibuk secara teknis namun timnya tidak pernah benar benar berkembang.

  • Menciptakan rasa aman dalam tim (psychological safety). Studi Project Aristotle yang dilakukan Google terhadap ratusan tim internal menemukan bahwa rasa aman psikologis. 

Keyakinan anggota tim bahwa mereka tidak akan dipermalukan atau dihukum karena bertanya, mengajukan ide, atau mengakui kesalahan. Ini faktor paling menentukan efektivitas sebuah tim, bahkan lebih menentukan dibandingkan seberapa pintar individu di dalamnya. 

Manajer baru yang belum menyadari hal ini sering tanpa sadar menciptakan suasana yang membuat anggota timnya memilih diam daripada bersuara, sehingga masalah kecil baru diketahui setelah menjadi masalah besar.

  • Menyesuaikan gaya memimpin dengan kondisi tim (situational leadership). Tidak semua anggota tim bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Karyawan yang baru bergabung biasanya membutuhkan arahan yang jelas dan pendampingan yang lebih intens. 

Karyawan yang sudah mulai berkembang membutuhkan ruang untuk mencoba sambil tetap didampingi. Sementara karyawan senior yang sudah terbukti kompeten justru akan merasa tidak dipercaya jika terus diawasi secara detail dan lebih membutuhkan otonomi penuh disertai dukungan saat dibutuhkan.

Beberapa pertanyaan refleksi berikut dapat membantu menilai sejauh mana kemampuan ini sudah dimiliki oleh first time manager:

•       Ketika ada anggota tim yang membuat kesalahan, reaksi pertamamu adalah mencari siapa yang salah, atau mencari cara memperbaikinya bersama?

•       Berapa banyak keputusan yang masih harus melewati mejamu terlebih dahulu sebelum tim bisa melangkah?

•       Apakah anggota timmu berani menyampaikan pendapat yang berbeda denganmu secara terbuka?

•       Ketika mendampingi staf baru dan staf senior, apakah kamu memakai pendekatan yang sama, atau menyesuaikan tingkat pendampingannya?

•       Seberapa sering kamu mengakui secara terbuka di depan tim bahwa kamu belum tahu jawaban atas suatu persoalan?

Baca juga: Experiential Learning, Metode Belajar Paling Efektif Melalui Pengalaman Nyata

2. Kemampuan Mengelola Pekerjaan Sehari hari

Setelah cara pandangnya berubah, first-time manager membutuhkan keterampilan praktis agar tidak kewalahan menjalankan perannya, sekaligus agar timnya tidak ikut kewalahan karena caranya bekerja.

  • Belajar mendelegasikan tugas. Delegasi yang baik bukan sekadar melempar pekerjaan lalu berharap hasilnya sesuai keinginan, melainkan menyerahkan tugas disertai kejelasan hasil akhir yang diharapkan, tenggat waktu, dan batasan wewenang yang jelas, sambil tetap memegang tanggung jawab atas hasil akhirnya. 

Tanpa kejelasan ini, delegasi sering berujung pada kekecewaan di kedua belah pihak, manajer merasa hasilnya tidak sesuai harapan, sementara anggota tim merasa tidak pernah diberi arahan yang cukup sejak awal.

  • Memilah prioritas kerja. Banyak manajer baru kesulitan membedakan pekerjaan yang benar benar berdampak besar bagi tim dan bisnis, dengan pekerjaan yang hanya terasa mendesak karena datang mendadak atau berisik. 

Tanpa kemampuan memilah ini, hari kerja habis untuk memadamkan api kecil satu demi satu, sementara pekerjaan yang sebenarnya penting bagi arah tim justru tidak pernah tersentuh.

  • Merapikan alur kerja tim. Manajer baru perlu terbiasa meninjau ulang cara timnya bekerja secara berkala, mencari langkah yang berbelit, persetujuan yang tidak perlu, atau kebiasaan yang membuat pekerjaan menumpuk di satu orang saja. 

Perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya jauh lebih berdampak dibandingkan perombakan besar yang dilakukan sesekali.

Beberapa pertanyaan refleksi berikut dapat membantu menilai sejauh mana kemampuan ini sudah dimiliki.

•       Ketika mendelegasikan tugas, apakah kamu menjelaskan hasil akhir yang diharapkan, atau hanya menyebutkan tugasnya dan berharap timmu tahu sendiri?

•       Berapa banyak waktu dalam sepekan yang kamu habiskan untuk mengerjakan ulang pekerjaan yang sebenarnya sudah didelegasikan?

•       Apakah kamu bisa membedakan pekerjaan yang benar benar penting, dari pekerjaan yang hanya terasa mendesak?

•       Adakah proses kerja di timmu yang sepenuhnya berhenti kalau kamu sedang tidak ada di tempat?

•       Kapan terakhir kali kamu dan tim meninjau ulang alur kerja untuk mencari langkah yang bisa disederhanakan?

Baca juga: Coaching-Style Conversation, Cara Leader Memulai Percakapan Penting Tanpa Takut Konflik

3. Kemampuan Memahami Arah Bisnis Perusahaan

Bekal ketiga ini memastikan kerja harian tim tetap terhubung dengan tujuan besar organisasi, bukan sekadar rutinitas yang dijalankan tanpa tahu untuk apa.

  • Menerjemahkan target perusahaan. Target dari direksi biasanya berbentuk angka besar dan abstrak, seperti pertumbuhan pendapatan atau efisiensi biaya. 

Tugas manajer baru adalah mengubah angka tersebut menjadi langkah kerja harian yang konkret dan bisa dieksekusi timnya, sehingga setiap anggota tim tahu persis apa yang perlu dilakukan hari ini untuk mendukung target tersebut.

  • Menjelaskan keterkaitan tugas dengan pencapaian bisnis. Tim yang memahami mengapa pekerjaannya penting cenderung lebih termotivasi dibandingkan tim yang hanya diberi daftar tugas tanpa konteks. 

Manajer baru perlu terbiasa menjelaskan bagaimana pekerjaan sehari hari timnya berkontribusi pada kepuasan pelanggan, pertumbuhan pendapatan, atau tujuan strategis lain yang lebih besar.

  • Memahami siapa yang menggunakan hasil kerja tim. Baik pelanggan langsung maupun divisi lain di dalam organisasi, tim perlu tahu siapa yang akan memakai atau terdampak dari hasil pekerjaannya, agar standar kualitas kerja tetap terjaga dan tidak sekadar mengejar selesai.

Beberapa pertanyaan refleksi berikut dapat membantu menilai sejauh mana kemampuan ini sudah dimiliki.

•       Bisakah anggota timmu menjelaskan dengan kata katanya sendiri bagaimana pekerjaan mereka berkontribusi pada target perusahaan?

•       Ketika membagikan target kerja ke tim, apakah kamu juga menjelaskan alasan di balik angka tersebut?

•       Apakah timmu tahu siapa yang akan menggunakan atau terdampak langsung dari hasil pekerjaan mereka?

•       Seberapa sering kamu mengaitkan pekerjaan harian tim dengan arah besar perusahaan?

•       Jika target bisnis berubah, seberapa cepat timmu bisa memahami dan menyesuaikan cara kerjanya?

Baca juga: Leader Wajib Tahu Lean Thinking! Cara Hilangkan Waste agar Kerja Jadi Bernilai

Contoh Worksheet Menilai Kesiapan Manajer Baru

Sebelum promosi atau menyusun program pelatihan, tim HR dan pimpinan divisi dapat menggunakan worksheet berikut untuk menilai kesiapan calon first-time manager secara lebih menyeluruh. 

Worksheet ini terdiri dari 15 pernyataan, masing masing 5 pernyataan untuk setiap kemampuan yang sudah dibahas. 

Gunakan skala 1 sampai 5, dengan 1 berarti belum tampak sama sekali dan 5 berarti sudah mahir serta bisa menjadi contoh bagi orang lain.

AspekPernyataan PenilaianSkor (1 - 5)
Cara Berpikir dan MembimbingMampu menahan diri untuk tidak langsung mengambil alih tugas staf saat terjadi kendala teknis 
Cara Berpikir dan MembimbingMerespons kesalahan tim dengan mencari solusi bersama, bukan mencari siapa yang salah 
Cara Berpikir dan MembimbingMenyesuaikan gaya komunikasi dan pendampingan sesuai tingkat kematangan tiap anggota tim 
Cara Berpikir dan MembimbingRutin memberikan umpan balik yang membangun secara berkala, bukan hanya saat ada masalah 
Cara Berpikir dan MembimbingBerani mengakui secara terbuka ketika belum memiliki jawaban atas suatu persoalan 
Mengelola PekerjaanMendelegasikan tugas disertai kejelasan hasil yang diharapkan dan tenggat waktu 
Mengelola PekerjaanMampu memisahkan tugas yang benar benar berdampak besar dari tugas yang sekadar terasa mendesak 
Mengelola PekerjaanMenyerahkan tugas tanpa terus menerus mengawasi setiap langkah kecilnya 
Mengelola PekerjaanAktif merapikan alur kerja tim agar keputusan tidak menumpuk hanya padanya 
Mengelola PekerjaanMemastikan proses kerja tim tetap berjalan meskipun ia sedang tidak berada di tempat 
Memahami Arah BisnisMampu menjelaskan keterkaitan target tim dengan arah strategis perusahaan 
Memahami Arah BisnisMenerjemahkan target perusahaan menjadi langkah kerja harian yang jelas bagi tim 
Memahami Arah BisnisMemahami siapa pengguna atau penerima manfaat dari hasil kerja timnya 
Memahami Arah BisnisMenjelaskan kepada tim alasan di balik target atau perubahan prioritas kerja 
Memahami Arah BisnisMengaitkan pencapaian tim dengan dampaknya terhadap kepuasan pelanggan atau kinerja bisnis 

 Total skor 56 sampai 75 menandakan kesiapan yang kuat untuk memimpin, dan biasanya cukup didampingi lewat mentoring berkala. 

Skor 31 sampai 55 menandakan potensi besar namun masih membawa kebiasaan individual contributor, sehingga promosi sebaiknya disertai kewajiban mengikuti pelatihan first-time manager dalam tiga bulan pertama. 

Skor di bawah 31 menandakan kandidat sebaiknya lebih dahulu diarahkan ke program pengembangan pra kepemimpinan sebelum dipromosikan, karena risiko kegagalan di posisi manajerial masih cukup tinggi.

Baca juga: Leadership Training: Panduan Lengkap Program, Materi, dan Biaya

Porsi Ideal Materi Pelatihan First-Time Manager

Pelatihan first-time manager idealnya menyeimbangkan tiga aspek berikut. Namun, porsi terbesar perlu diberikan pada cara berpikir dan relasi karena di situlah akar dari sebagian besar tantangan yang dihadapi first-time manager.

Aspek PelatihanPorsiFokus MateriHasil bagi Bisnis
Cara Berpikir dan Relasi70 persenKecerdasan emosional, pola pikir bertumbuh, rasa aman dalam tim, gaya memimpin yang fleksibel, dan coachingTurnover menurun, kepercayaan tim meningkat, engagement naik
Teknis20 persenManajemen waktu, delegasi, penetapan target kerja, dan perbaikan alur kerjaBottleneck berkurang, efisiensi kerja meningkat
Pemahaman Konteks Bisnis10 persenTarget kerja (KPI/OKR) dan pemahaman siapa pengguna hasil kerja timStrategi perusahaan tersampaikan hingga level operasional

 

Program Leadership Transformation Journey dari Gtrust Consultancy untuk Manajer Baru

Gtrust Consultancy memiliki program bernama Leadership Transformation Journey, yang dirancang khusus untuk membantu transisi kepemimpinan di berbagai jenjang, termasuk bagi first-time manager.

Bagi first time manager, kami menyebutnya sebagai Leading Self and Others. Ditujukan bagi karyawan yang baru pertama kali memimpin tim atau baru beralih dari individual contributor menjadi manajer. 

Program ini berlangsung kurang lebih 2,5 hari dan dirancang berbasis pembelajaran dari pengalaman langsung. Peserta diajak melalui simulasi, refleksi, dan latihan praktik yang relevan dengan tantangan sehari hari seorang manajer baru sehingga pembelajaran lebih mudah melekat dan diterapkan kembali di tempat kerja.

Materi program ini mencakup tiga aspek yang sama dengan bekal yang dijelaskan sebelumnya, yaitu cara berpikir dan membimbing tim, cara mengelola pekerjaan sehari hari, dan pemahaman dasar tentang arah bisnis perusahaan. 

Setelah program selesai, biasanya tersedia sesi pendampingan lanjutan agar perubahan perilaku yang dipelajari benar benar diterapkan di tempat kerja.

Baca juga: 10 Leadership Training Program yang Banyak Digunakan Perusahaan

Diskusikan Kebutuhan Pelatihan Manajer Baru di Organisasimu

Kegagalan transisi first-time manager dapat menjadi risiko pemborosan biaya sekaligus hilangnya talenta terbaik perusahaan. Risiko ini jauh lebih mudah dicegah sejak awal dibandingkan diperbaiki setelah tim kehilangan kepercayaan.

Bagaimana organisasi kamu mempersiapkan para manajer baru saat ini? Apakah perusahaanmu sudah memiliki program pengembangan kepemimpinan yang terstruktur untuk mereka? 

Jika kamu ingin mendiskusikan kebutuhan pelatihan first-time manager di organisasimu, tim Gtrust Consuyltancy siap membantu.

WhatsApp: +62 811 2026 1835

Email: consultancy@gtrust.id 

Website: www.gtrust.id 

Sumber

Gallup. Why great managers are so rare. https://www.gallup.com/workplace/231593/why-great-managers-rare.aspx

Gallup. Managers account for at least 70 percent of variance in employee engagement. https://news.gallup.com/businessjournal/182792/managers-account-variance-employee-engagement.aspx

Center for Creative Leadership. Common challenges of new managers. https://www.ccl.org/articles/leading-effectively-articles/first-time-managers-must-conquer-these-challenges/

Wharton Executive Education. New leaders need training, helping first-time managers make the shift. https://executiveeducation.wharton.upenn.edu/thought-leadership/wharton-at-work/2024/09/new-leaders-need-training/

Share: