7 Contoh Training Need Analysis di Berbagai Divisi Perusahaan
Banyak perusahaan menyadari bahwa pelatihan penting untuk meningkatkan kompetensi karyawan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit pelatihan yang dilakukan hanya karena dianggap “perlu”, tanpa proses analisis kebutuhan yang jelas.
Akibatnya, pelatihan sering kali tidak menjawab masalah yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Oleh karena itu, banyak organisasi mulai menggunakan training need analysis (TNA) sebagai dasar sebelum merancang program pelatihan.
Training need analysis membantu perusahaan memahami kesenjangan antara kinerja yang diharapkan dan kinerja yang terjadi saat ini, serta mengidentifikasi kompetensi apa yang perlu diperkuat melalui pelatihan (Gupta, 2007).
Dalam praktik pengembangan SDM, proses ini biasanya melibatkan analisis organisasi, analisis pekerjaan, dan analisis individu untuk memahami kebutuhan pengembangan secara menyeluruh (Noe, 2020).
Berikut beberapa contoh training need analysis di perusahaan dari berbagai divisi untuk memberikan gambaran yang lebih konkret bagi HR dan pimpinan organisasi.
1. Divisi Sales
Sebuah perusahaan distributor produk industri mengalami penurunan tingkat closing penjualan dalam enam bulan terakhir. Jumlah prospek yang masuk relatif stabil, tetapi konversi dari presentasi ke penjualan menurun.
HR kemudian melakukan training need analysis dengan beberapa langkah.
- Pertama, HR menganalisis data pipeline penjualan. Dari data tersebut terlihat bahwa banyak prospek berhenti setelah tahap presentasi produk.
- Kedua, HR melakukan wawancara dengan sales manager untuk memahami tantangan yang dihadapi tim.
- Ketiga, HR melakukan observasi pada beberapa pertemuan penjualan dengan klien.
Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga penjualan sangat fokus menjelaskan fitur produk, tetapi kurang menggali kebutuhan bisnis klien.
Dari proses ini HR menyimpulkan bahwa kebutuhan pengembangan tim penjualan bukan pada pemahaman produk, melainkan pada kemampuan seperti:
- consultative selling
- questioning technique
- objection handling
Berdasarkan training need analysis tersebut, perusahaan merancang pelatihan yang berfokus pada strategi percakapan penjualan berbasis kebutuhan klien.
Baca juga: Training Need Analysis, Cara Tentukan Pelatihan Tepat di Perusahaan
2. Divisi Customer Service

Sebuah perusahaan layanan digital mengalami peningkatan jumlah keluhan pelanggan yang masuk melalui pusat layanan.
HR melakukan training need analysis dengan menganalisis data layanan pelanggan selama tiga bulan terakhir. Dari data tersebut terlihat bahwa sebagian besar keluhan berkaitan dengan pengalaman komunikasi dengan staf layanan pelanggan.
HR kemudian melakukan analisis rekaman percakapan layanan pelanggan untuk melihat bagaimana staf merespons keluhan pelanggan.
Beberapa pola yang muncul antara lain:
- staf terlalu cepat memberikan solusi tanpa mendengarkan keluhan secara utuh
- respon komunikasi terdengar defensif
- staf kesulitan meredakan emosi pelanggan.
Dari analisis ini HR menyimpulkan bahwa tim membutuhkan penguatan kompetensi dalam:
- komunikasi empatik
- teknik menangani keluhan pelanggan
- conflict handling
3. Divisi Human Resources
Dalam sebuah perusahaan teknologi yang sedang berkembang, HR menemukan bahwa proses rekrutmen sering memakan waktu cukup lama. Training need analysis dimulai dengan analisis data rekrutmen selama satu tahun terakhir.
Dari data tersebut diketahui bahwa waktu rata-rata untuk mengisi satu posisi mencapai hampir tiga bulan.
HR kemudian melakukan diskusi dengan hiring manager dari berbagai divisi. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa banyak kandidat yang tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
HR juga meninjau proses wawancara yang dilakukan oleh tim rekrutmen.
Dari proses ini terlihat bahwa sebagian recruiter belum menggunakan teknik wawancara berbasis kompetensi. Akhirnya HR menyimpulkan bahwa kebutuhan pengembangan tim rekrutmen adalah pada:
- competency based interview
- teknik menggali pengalaman kandidat
- evaluasi kandidat berbasis kompetensi
Baca juga: 7 Metode Training Need Analysis Paling Efektif agar Pelatihan Tepat
5. Divisi Produksi

Sebuah perusahaan manufaktur menemukan bahwa tingkat kesalahan produksi meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
HR melakukan training need analysis dengan menganalisis laporan kualitas produksi. Dari laporan tersebut terlihat bahwa kesalahan produksi sering terjadi pada tahap tertentu dalam proses perakitan.
HR kemudian melakukan observasi langsung di lini produksi serta berdiskusi dengan supervisor produksi. Dari observasi tersebut ditemukan bahwa sebagian operator belum sepenuhnya memahami standar prosedur terbaru yang diterapkan perusahaan.
Selain itu, beberapa operator baru belum mendapatkan pelatihan teknis yang cukup.
Berdasarkan temuan tersebut HR menyimpulkan bahwa kebutuhan pengembangan berkaitan dengan:
- pelatihan standar operasional produksi
- peningkatan keterampilan teknis operator
- penguatan pengawasan kualitas produksi
6. Divisi Marketing
Dalam sebuah perusahaan ritel, manajemen menyadari bahwa strategi pemasaran digital yang dilakukan belum memberikan hasil yang optimal. HR kemudian melakukan training need analysis bersama tim marketing.
Pertama, HR menganalisis data performa kampanye digital yang dijalankan perusahaan.
Dari data tersebut terlihat bahwa engagement di media sosial cukup tinggi, tetapi tingkat konversi dari kampanye digital masih rendah.
HR kemudian melakukan diskusi dengan tim marketing untuk memahami proses perencanaan kampanye yang dilakukan. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa sebagian anggota tim marketing belum terbiasa menggunakan analisis data untuk merancang strategi kampanye.
Oleh karena itu HR menyimpulkan bahwa kebutuhan pengembangan tim marketing berkaitan dengan:
- digital marketing analytics
- customer journey analysis
- strategi kampanye berbasis data
Baca juga: 7 Cara Membuat Training Need Analysis yang Tepat
7. Divisi Finance

Sebuah perusahaan jasa profesional ingin memperkuat kemampuan tim finance dalam melakukan analisis keuangan untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
HR melakukan training need analysis dengan berdiskusi bersama pimpinan divisi finance.
Dari diskusi tersebut diketahui bahwa sebagian anggota tim finance cukup kuat dalam pencatatan keuangan, tetapi belum terbiasa melakukan analisis yang mendukung keputusan bisnis.
HR juga meninjau beberapa laporan keuangan yang dihasilkan tim. Dari analisis tersebut terlihat bahwa laporan yang dibuat lebih bersifat administratif dan belum memberikan insight yang mendukung strategi bisnis.
Berdasarkan temuan ini HR menyimpulkan bahwa kebutuhan pengembangan tim finance berkaitan dengan:
- financial analysis
- business financial interpretation
- financial storytelling untuk manajemen
Bagaimana Training Need Analysis Dilakukan secara Sistematis?
Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa training need analysis biasanya melibatkan beberapa langkah penting, antara lain:
- menganalisis data kinerja tim atau organisasi
- melakukan wawancara dengan pimpinan tim
- melakukan observasi pekerjaan
- melakukan diskusi kelompok atau focus group discussion
- meninjau proses kerja yang berjalan
Pendekatan ini membantu HR memahami kebutuhan pengembangan secara lebih akurat sebelum merancang program pelatihan.
Dalam praktiknya, proses training need analysis sering kali perlu disesuaikan dengan konteks organisasi. Tidak semua perusahaan memiliki kebutuhan yang sama sehingga metode analisis yang digunakan juga dapat berbeda.
Dalam berbagai proyek pengembangan organisasi, Gtrust Consultancy juga memulai proses perancangan program pelatihan melalui training need analysis terlebih dahulu. Pendekatan ini membantu perusahaan memahami tantangan yang dihadapi tim serta menentukan bentuk pembelajaran yang paling relevan.
Prosesnya dapat melibatkan berbagai metode seperti analisis data kinerja, diskusi dengan pimpinan organisasi, observasi kerja, hingga refleksi bersama tim mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam pekerjaan sehari-hari.
Dengan pendekatan ini, program pelatihan yang dirancang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga lebih relevan dengan kebutuhan kerja organisasi.
Menemukan Program Pelatihan yang Benar-Benar Dibutuhkan Tim
Banyak organisasi mulai menyadari bahwa keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh kualitas materi atau fasilitator, tetapi juga oleh ketepatan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengembangan.
Training need analysis membantu perusahaan melihat dengan lebih jelas:
- kesenjangan kompetensi yang terjadi di tim
- faktor yang memengaruhi kinerja karyawan
- jenis pembelajaran yang paling relevan untuk dikembangkan
Dalam berbagai proyek pengembangan organisasi, tim Gtrust Consultancy juga membantu perusahaan menjalani proses tersebut. Pendekatan yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, mulai dari analisis kebutuhan pengembangan hingga perancangan program pelatihan yang relevan dengan konteks kerja perusahaan.
Jika organisasi Anda sedang merencanakan program pelatihan atau ingin memastikan bahwa pelatihan yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan tim, Anda dapat berdiskusi dengan tim Gtrust melalui:
WhatsApp: +62 811 2026 1835
Email: consultancy@gtrust.id
Melalui proses training need analysis yang tepat, perusahaan dapat merancang pembelajaran yang benar-benar membantu tim berkembang dan #TumbuhBersama.
Sumber
Campion, M. A., Palmer, D. K., & Campion, J. E. (1997). A review of structure in the selection interview. Personnel Psychology, 50(3), 655–702.
Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital marketing: Strategy, implementation and practice (7th ed.). Pearson.
Gupta, K. (2007). A practical guide to needs assessment (2nd ed.). Pfeiffer.
Kaplan, R. S., & Atkinson, A. A. (2015). Advanced management accounting (3rd ed.). Pearson.
Noe, R. A. (2020). Employee training and development (8th ed.). McGraw-Hill Education.
Goldstein, I. L., & Ford, J. K. (2002). Training in organizations: Needs assessment, development, and evaluation (4th ed.). Wadsworth.
Salas, E., Tannenbaum, S. I., Kraiger, K., & Smith-Jentsch, K. A. (2012). The science of training and development in organizations: What matters in practice. Psychological Science in the Public Interest, 13(2), 74–101. https://doi.org/10.1177/1529100612436661