Agent of Change (AoC) PHI Dampingi Perubahan Organisasi Menjadi Tim Agile, Solid, dan High-Performing
Di Pertamina Hulu Indonesia (PHI), para agent of change (AoC) adalah garda terdepan yang memastikan nilai-nilai AKHLAK benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari di setiap individu dalam organisasi.
Namun, di tengah target, dinamika kerja, dan perubahan organisasi, bagaimana memastikan para penggerak ini tidak berjalan sendiri? Bagaimana agar tetap tumbuh relasi, kolaborasi, dan keberanian untuk bergerak bersama?
Mereka butuh ruang untuk saling mengenal lebih dalam, untuk jujur tentang tantangan yang dihadapi, dan untuk menemukan kembali alasan mereka mau mengemban peran ini sejak awal.
Itulah yang menjadi latar belakang program agent of change (AoC) yang difasilitasi Gtrust Consultancy di Bogor, Februari 2025. Bersama lebih dari 30 AoC, program ini dirancang dengan tiga fokus utama:
- Memperkuat ikatan antar peserta, mendorong kolaborasi, komunikasi, dan saling mendukung.
- Merangsang pemikiran kreatif dan pemecahan masalah yang inovatif melalui kegiatan dan lokakarya yang menarik.
- Menekankan Tata Nilai AKHLAK: AMANAH, KOMPETEN & KOLABORATIF
Program ini mengajak peserta melihat perubahan sebagai target organisasi sekaligus perjalanan sesama manusia untuk #TumbuhBersama.
Mencairkan Sekat dan Bangun Ruang Aman sebagai Tim Penggerak Perubahan

Program dibuka dengan sambutan alunan musik tradisional Sunda dan dua penari yang memandu peserta menuju area aktivitas. Sebelum bisa bergerak bersama, kita perlu merasa aman dan nyaman dulu.
Melalui permainan ritmik Salam Sabrang dan alunan lagu Sabilulungan, peserta mulai bergerak selaras satu sama lain. Suasana tegang perlahan mencair seiring gerakan antar peserta yang selaras. Salah satu peserta, Abhi, merangkumnya dengan sederhana: “Baru ketemu tapi udah lancar aja.”
Sebelum masuk ke aktivitas utama, peserta diajak menuliskan harapan mereka hari itu, Jawaban yang muncul sangat sederhana, mereka ingin kembali terhubung. Mereka datang sebagai manusia yang butuh rehat dari layar laptop, ingin berkolaborasi tanpa tekanan, dan mencari pencerahan baru untuk dibawa pulang.

Peserta juga merefleksikan energi yang mereka bawa melalui kerangka Ways of Showing Up. Hasilnya beragam dan jujur:
- 40% hadir sebagai Explorer yang siap keluar dari zona nyaman
- 30% sebagai Vacationer yang ingin menikmati proses
- 23% masih dalam mode Captive yang mengamati dulu sebelum benar-benar terlibat
- 7% sebagai Sophisticated yang datang dengan agenda belajar yang jelas.
Refleksi ini memvalidasi bahwa setiap orang punya ritme dan kesiapan yang berbeda dalam menghadapi perubahan. Namun, mengikuti kegiatan ini adalah langkah keberanian kecil untuk lebih terbuka terhadap proses perubahan.
Belajar Perubahan Melalui Filosofi Sekar Hirup, Cara Nenek Moyang Kita Berubah
Melalui refleksi pendekatan kultural filosofi Sunda Sekar Hirup (bunga kehidupan), para AoC PHI diajak belajar, berkontribusi, dan membimbing perubahan dengan melepaskan ego dan status. Mereka bercermin pada sosok Kabayan, pembawa perubahan dalam tradisi Sunda.
Perjalanan ini terbagi dalam empat tahapan:
- Kerta: Belajar & eksplorasi bersama.
- Sanghara: Tantangan & strategi.
- Dophara: Fokus & kejelian.
- Tirta: Suci, kembali ke tujuan.
Mereka kembali diajak "bermain", karena dalam permainan, kejujuran dan sifat asli manusia yang kerap tertutup oleh rutinitas korporat akan muncul dengan sendirinya.
Permainan Tradisional sebagai Cermin Dinamika Kerja
Di lapangan terbuka, dinamika kerja disimulasikan melalui permainan tradisional agar peserta saling mengenal karakter satu sama lain.

Pada tahap Kerta melalui permainan XOXO, terlihat jelas ego kompetitif berpadu dengan negosiasi antar tim. Ada yang ngotot hingga akhir, ada yang memilih berkompromi. Di sini terlihat bagaimana setiap orang merespons keberhasilan dan tekanan.

Memasuki tahap Sanghara dengan Bola Gebok, kelompok belajar beradaptasi. Ada tim yang bergantian melempar tanpa strategi, namun ada yang dengan cerdik memecah perhatian lawan terlebih dahulu. Momen "aha" datang berbeda-beda hingga akhirnya strategi terbentuk.

Pada tahap Dophara melalui Dolanan Biting, permainan menguras konsentrasi. Perdebatan kecil yang muncul saat saling mengawasi menunjukkan bagaimana komunikasi dan kepercayaan diri sangat memengaruhi hasil akhir.
Dari Permainan menjadi Refleksi dan Insight untuk Diterapkan di Tempat Kerja
Proses debriefing dimulai saat fasilitator mengajak peserta menghubungkan apa yang dirasakan di lapangan dengan peran sebagai AoC. Insight yang lahir antara lain:
- Walaupun tidak berlari, jangan diam karena inisiatif kecil tetap menggerakkan perubahan
- Komunikasi jelas kepada tim adalah fondasi strategi yang bisa dijalankan
- Trial & error itu cara kita menemukan POV yang lebih segar
- Negosiasi win-win adalah efisiensi energi yang cerdas
- Memberi giliran kepada orang lain adalah bentuk kepercayaan
Dari ruang diskusi ini, muncul kesadaran bahwa peran AoC adalah tentang menggerakkan, berinisiatif, berkoneksi, dan menjaga semangat perubahan tetap hidup dalam tim.
Menemukan Kembali Tujuan Tim Agent of Change (AoC)

Pada tahap Tirta, peserta diajak melihat kembali tujuan (north star) mereka membuat perubahan. Melalui sesi coaching tools phototherapy menggunakan Points of You, peserta memilih satu foto yang mewakili “versi diri yang diinginkan”
Di ruang yang aman ini, mereka mulai berbicara jujur tentang rasa lelah, kekuatan dan kelemahan diri, tujuan pribadi, hal-hal yang selama ini terabaikan, hingga alasan mengapa mereka ingin tetap bertumbuh. Di tengah tuntutan performa, mereka menyadari bahwa kolaborasi sejati adalah saling membantu untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Kesimpulan yang dituliskan peserta dari sesi ini membentuk gambaran yang jelas untuk adaptif, jujur dengan diri sendiri, belajar mendengarkan, dan mengenal orang lain sebagai cara mengenal diri sendiri.
Dampak yang Tercermin dari Peserta
Di akhir program, emosi yang paling banyak dirasakan peserta adalah bersemangat, antusias, dan tertarik untuk berkembang. Hal ini sejalan dengan meningkatnya keyakinan kolektif mereka:
- 83% merasa bertanggung jawab penuh atas tugas dan keputusan mereka.
- 87% yakin menyelesaikan tugas dengan kualitas terbaik.
- 77% yakin menggerakkan pemanfaatan berbagai sumber daya.
Refleksi yang dibagikan peserta menangkap esensi perjalanan ini:
"Terkadang kita butuh pause sejenak untuk mengenali diri. Dari sana, saya menemukan kembali tujuan saya, sehingga siap melangkah maju."
"Kolaborasi terasa jauh lebih mudah saat kita mau menurunkan ego, terbuka, dan mendengarkan rekan yang beda latar belakang."
"Proses ini mengajarkan bahwa bersikap adaptif dan saling dukung adalah kunci menjadi game changer yang tangguh."
Menutup Perjalanan, Membawa Harmoni Budaya dan Perubahan
Perjalanan ini ditutup dalam momen kebersamaan dengan menyematkan Totopong, yang menjadi simbol kembali ke kerendahan hati dalam memimpin. Mereka juga mengenakan Karembong sebagai simbol keberanian untuk berubah dan pencarian jati diri.
Peserta bersama-sama saling merangkul perubahan agar bisa terus relevan dengan zaman, tanpa pernah kehilangan akar jati dirinya. Karena pada akhirnya, budaya organisasi tumbuh dari manusia-manusia yang mau bergerak, belajar, dan #TumbuhBersama.
Pada akhirnya, budaya organisasi tumbuh dari manusia-manusia yang mau bergerak, belajar, dan tumbuh bersama dalam percakapan kecil, dalam pilihan-pilihan sehari-hari, dan dalam keberanian untuk hadir secara lebih utuh.
Para agent of change (AoC) PHI sudah mengambil satu langkah ke arah itu. Langkah berikutnya ada di tangan mereka.


